Senin kemarin dia kena cakupan, dibawalah ke liponsos malam-malam. Kami seperti biasa wara-wiri di jalan. Dia tak puya ibu-bapa, hanya tinggal bersama nenek tua. Hidupnya di jalan jangan lagi ditanya, aku sayang padanya kami sayang padanya.
Selasa dia dipulangkan dari liponsos, panas-panasan kami mengambil berkas, teernyata tak terpakai. Tapi Tuhan tetep baik, yang penting Dia sudah pulang.
Rabu tak ada kabar darinya, kami sedang lelah, aku pun juga. Tak sempat menengok dia barang sejenak saja.
Kamis pagi aku hubungi gurunya, katanya hari ini dia sudah masuk sekolah. Dapat dana yang lumayan dari pemerintah katanya, tapi kenapa kami baru tahu hari ini, mungkin kerna kami yang kurang memberi perhatian lebih.
Cerita macam apalagi ini !

Sedikit demi sedikit terkelupas sendiri, rahasia-rahasia yang selama ini entah memang dirahasiakan atau memang belum waktunya dinampakkan.
Anak-anak berjualan di jalan. Satpol pp tiap malam seliweran. Dia tak punya ibu bapa, tapi di aktanya jelas tertulis nama seorang wanita. Satpol pp yang ternyata rumahnya di ujung jalan tempat dia biasa berjualan. Sandiwara atau drama?
Sebeginikah hidup?
Tak pernah ku dapati panggung teater sehebat dan sekompleks ini. Bagai selambu kusut yang hendak diurai satu persatu, butuh waktu. Lama, iya. Harus sabar, iya. Telatin, iya. Menyangkal diri, iya. Waktu jadi musuh sekaligus lawan terdekat.
Kata Mas Dodo kami hanya perlu lebih sabar saja, memohon kepada yang lebih luhur dalam doa, mengakui bahwa tiada apa-apa dibanding Sang Maha, berkawan denngan waktu.
Semoga sambungan hatiku, hatimu, hati kami, dan hatinya memang menuju ke satu arah yang sama.
Semoga.