Pernah, setidaknya lima tahun lalu kita pernah berjalan beriringan. Kau pun hanya sepersekian bagian dari 23 tahun hidup yang hampir terlewati. Hanya sepersekian waktu yang Tuhan ijinkan untuk mengenalmu lebih jauh. Hanya sepersekian waktu untuk memaknai kata tulus dan ikhlas dalam waktu yang hampir bersamaan. Tanpa jeda.

20160709_155340

Setidaknya kau pernah singgah, hanya singgah. Walau hanya sejenak saja tapi kenangan tak mengenal waktu. Jika yang tersisa diantara kita hanyalah kenangan, masih bolehkah ku sisipkan namamu dalam doa? Sykurku tak pernah habis padaNya, karena kau pernah ada.

Terimakasih pernah mengajarkanku bagaimana berbahagia, mengasihi dengan tulus tanpa pamrih, berpisah tanpa kata pisah, ikhlas tanpa harus mengucap ikhlas. Ikhlas. Satu kata yang berulang-ulang kau sebut setiap kita bertemu, dulu.

Bukankah kita masih sama-sama belajar memaknai ikhlas itu sendiri? Aku yang berusaha ikhlas untukmu, sementara kau yang berusaha ikhlas untuknya.

Kopi malam ini masih sama pahitnya seperti yang dulu, dedaknya juga masih setebal dulu. Semua masih sama seperti dulu, tak ada ubahnya.


Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started