Angin berhembus cukup kencang, hujan malam itu sepertinya sepaket dengan si angin.
Malam itu dia datang, dengan jaket jeans berwarna biru plus sandal hitam yang makin lama makin tipis saja. Tak lupa sebungkus rokok terselip di saku jaketnya, tangan kirinya membawa bungkusan, dan sebatang rokok mild hitam di tangan kanannya. Kebal-kebul rokok, tak peduli itu siang atau malam.
“Assalamualaikum, nduk”
Aku mengintip dari balik jendela, ku lihat dia buru-buru membuang rokoknya ke belakang. Sambil merapihkan bajunya dan rambutnya yang berantakan terkena hujan.
“Ada apa?” tanyaku sambil membuka sedikit pintu
“Boleh masuk?”
“Ndak usah, di luar saja.”
“Ya sudah kalau begitu, ayo duduk disini, aku pengen ngobrol sama kamu”
“Mau ngobrol apa? Penting kah sampai hujan begini kamu terabas juga?”
“Sudah duduk dulu lah nduk”
“Sebentar, aku mau ambil sesuatu di dalam”
Beberapa menit kemudian aku keluar dengan membawa secangkir kopi hitam.
“Ah kamu tahu aja, perhatian banget sih sama aku” katanya sambil tertawa terbahak-bahak
“Jangan berlebihan. Kamu mau ngobrol apa ?”
“Oh iya, soal itu … … …”
“Eh sebentar, kamu masih ngerokok? Katanya kemarin udah mau berhenti?”
“Hehe iya nanggung nduk, rokoknya masih sebungkus lagi. Kan sayang kalau dibuang, ya sekalian lah habisin yang ini”
“Serah deh, mau ngomong apa tadi?”
Dia hanya terdiam, matanya menerawang entah kemana. Seketika aroma kopi hitam terasa sangat pekat, sangat sesak. Dia masih diam, kemudian merebahkan tubuhnya di lantai teras.
“Kamu yakin pulang nduk?”
“Yakin”
“Nggak mau menetap disini barang setahun dua tahun?”
“Ndak, buat apa?”
“Nggak tahu”
“Ndak ada alasan aku menetap disini, lagi pula sebentar lagi kan kontrak kerjaku sudah habis”
“Berarti kita juga pisah?”
“Ndak usah berlebihan, nanti kalau kamu mudik juga kan kita bisa ketemu lagi”
Lagi-lagi dia terdiam, kemudian duduk tepat di sampingku. Sepanjang malam itu kami tak sekalipun menatap mata satu sama lain. Hanya aroma kopi yang menjadi penghubung kami malam itu.
“Aku sudah putuskan, besok aku ikut pulang.”
“Kenapa? Sudah bosan merantau?”
“Aku mau ketemu orang tua kamu, selepas itu kita menikah”
***
“Kamu serius dengan ucapanmu barusan?”
“Kenapa nduk? Kamu kaget? ”
“Kita ndak mungkin nikah. Kamu kan bukan pacar aku. Males juga punya pacar perokok macam kamu, jarang jajan malah banyakan ke dokternya”
“Loh kalau bukan pacar berarti nggak boleh nikahin kamu?”
“Eh, kita ini kan masih sama-sama bocah, mau ngajak nikah”
“Aku serius, kalau bukan pacar berarti nggak boleh nikahin kamu?”
“Kang, orang tuaku mana mau punya mantu kamu. Sama seperti ibumu juga mana mau punya mantu seperti aku. Jangan ngaco lah kalau ngomong”
“Tapi kita masih bisa berjuang ‘kan nduk?”
Aku memalingkan wajah, tak terasa air mataku jatuh perlahan setelah mendengar ucapannya barusan.
“Apa lagi sih yang mau diperjuangkan, Kang? Cinta? Akang pikir cinta saja cukup untuk modal nikah? Pikir atuh kang, apa yang kita jalani ini sia-sia!”
Dia beranjak dari teras, lalu pergi tanpa mengucap salam.
***

Empat tahun kemudian, kami dipertemukan dalam suatu ketidaksengajaan di sebuah taman kota. Penampilannya sudah berubah, hanya saja rokok hitam masih selalu ada di genggaman. Sampai saat ini tak ada seorang pun teman kami yang tahu hubungan kami yang dulu, bahkan teman sekamarku pun juga. Yang ku dengar, sebentar lagi dia akan menikah.